BAB I
PENDAHULUAN
A. Permasalahan
Al-Qur’an merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah Swt dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara, sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. al-Hijr/15: 9 yang berbunyi :
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ
Terjemahnya :
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharannya (Q.S. al-Hijr/15:9).[1]
Dengan jaminan ayat tersebut, setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai al-Qur’an saat ini tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah Saw dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat.
Al-Qur’an juga menjadi bukti kebenaran Rasulullah Saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap.[2] Pertama, menantang mereka untuk siapapun yang meragukannya untuk menyusun semacam al-Qur’an secara keseluruhan (Q.S. al-Tur/52: 34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam al-Qur’an (Q.S. Hud/11: 13). Ketiga, menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam al-Qur’an (Q.S. Yunus/10: 38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah saja dari al-Qur’an (Q.S. al-Baqarah/2: 23). Dalam hal ini Allah Swt menegaskan dalam FirmanNya pada Q.S. al-Isra’/17: 88;
@è% ÈûÈõ©9 ÏMyèyJtGô_$# ß§RM}$# `Éfø9$#ur #n?tã br& (#qè?ù't È@÷VÏJÎ/ #x»yd Èb#uäöà)ø9$# w tbqè?ù't ¾Ï&Î#÷WÏJÎ/ öqs9ur c%x. öNåkÝÕ÷èt/ <Ù÷èt7Ï9 #ZÎgsß ÇÑÑÈ
Terjemahnya :
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al- Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".[3]
Walaupun al-Qur’an menjadi bukti kebenaran Rasulullah Saw, tapi fungsi utamanya adalah menjadi petunjuk untuk seluruh umat manusia. Sebagai petunjuk, Rasulullah Saw mendapat tugas untuk menjelaskan maksud dari ayat-ayat Allah Swt yang terkandung dalam al-Qur’an (Q.S. al-Nahl/16: 44). Namun harus digaris bawahi pula bahwa penjelasan-penjelasan Rasulullah Saw tentang arti ayat-ayat al-Qur’an tidak banyak yang kita ketahui, bukan saja karena riwayat-riwayat yang diterima oleh generasi-generasi setelah beliau tidak banyak dan sebagiannya tidak dapat dipertanggungjawabkan otensitasnya, tetapi juga karena Rasulullah Saw sendiri tidak menafsirkan semua ayat al-Qur’an.[4]
Dari segi materi, terlihat bahwa ada ayat-ayat al-Qur’an yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Swt atau oleh Rasulullah Saw bila beliau menerima penjelasan dari Allah Swt.[5]
Termasuk dalam hal ini adalah huruf-huruf hijaiyah yang menjadi ayat-ayat pembuka surah setelah basmalah pada sebagian surah dalam al-Qur’an yang sering dikenal dengan istilah fawatih as-suwar. Beberapa ulama, ada yang berusaha menafsirkan makna dari huruf-huruf fawatih al-suwar ini, namun sebagian besar menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Swt yang mengetahui.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari permasalahan yang telah dikemukakan di atas, yakni :
1. Apakah pengertian Fawatih As-Suwar ?
2. Bagaimana bentuk-bentuk Fawatih As-Suwar ?
3. Bagaimana pandangan Ulama terhadap Fawatih As-Suwar ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Fawatih As-Suwar
Secara etimologi (bahasa) Fawatih As-Suwar (فواتح السور ) yang secara umum diartikan dengan pembuka surah terdiri dari dua kata, yaitu fawatih dan as-suwar. Fawatih ( فواتح) yang berarti pembuka merupakan bentuk jamak dari kata fataha ( فتح), yang berarti membuka.[6] Sedangkan kata as-suwar (السور), berarti surah-surah, merupakan bentuk jamak dari as-suru’ yang berarti sisa air dalam bejana.[7] Selain itu as-suwar adalah jamak taksir dari kata as-surah (ة السور ) yang berarti bagian dari Al-Qur’an yang dipisahkan dari bagian lainnya dan dibiarkan berdiri sendiri.[8]
Sedangkan secara terminologi, fawatih as suwar menurut Ibn Abi al-Isba’ dalam kitab al Khawathir as-Shawanih fi asrar al-fawatih yang ditulisnya, dia menggunakan istilah al-Fawatih dengan arti jenis-jenis perkataan yang membuka surah-surah dalam al-Qur’an. Jenis-jenis perkataan itu dibagi menjadi sepuluh kelompok; salah satunya adalah huruf-huruf tahajji (dibaca dengan cara dieja), atau yang biasa kita sebut dengan al-fawatih. Sementara Sembilan jenis lainnya adalah pujian: pujian kepada Allah, baik tahmid maupun tasbih; nida’ (seruan); jumlah khabariyah (kalimat berita); qasam (sumpah); syarat, perintah, doa, dan ta’lil (alasan).[9]
Fawatih As-Suwar adalah kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surah, ia merupakan bagian dari ayat mutasyabihat. Di dalam al-Qur’an terdapat huruf-huruf awalan dalam pembuka surah dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu ciri kebesaran Allah dan kemahatahuan-Nya, sehingga kita terpanggil untuk menggali ayat-ayat tersebut. Dengan adanya suatu keyakinan bahwa semakin dikaji ayat al-Qur’an itu, maka semakin luas pengetahuan kita. Hal ini dapat dibuktikan dengan. perkembangan ilmu tafsir yang kita lihat hingga sekarang ini.[10]
Dari pengertian diatas maka dapat dipahami dari segi makna fawatih as-suwar berarti pembuka-pembuka surah. Sebagian Ulama ada yang mengidentikkan fawatih as-suwar dengan huruf al-muqatta'ah atau huruf-huruf yang terpisah dalam al-Qur'an.
B. Bentuk-bentuk Fawatih As-Suwar
Setelah basmalah, pada permulaan dua puluh Sembilan surah di dalam al-Qur’an terdapat satu atau sekelompok huruf hijaiyah yang biasanya dibaca sebagai huruf-huruf terpisah atau berdiri sendiri. Sejumlah nama lazimya digunakan untuk merujuk kepada huruf-huruf tersebut, seperti fawatih al-suwar (pembuka-pembuka surah), awail al-suwar (permulaan-permulaan surah), al-huruf al-muqatta’ah/at (huruf-huruf potong/terpisah), dan sebagainya. Sementara sebutan yang lazim digunakan sarjana Barat ketika merujuk pada huruf-huruf tersebut adalah “huruf-huruf misterius”.[11]
Al Zarkasyi membagi fawatih as suwar ke dalam 10 macam, yakni :
1. Pembukaan dengan pujian kepada Allah (al-istiftah bil al tsana). Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu :
a. Menetapkan sifat-sifat terpuji dengan menggunakan salah satu lafal berikut :
1) Memakai lafal hamdalah yakni dibuka dengan الحمد لله , yang terdapat dalam 5 surat yaitu : Q.S. Al Fatihah, Al An’am, Al Kahfi, Saba, dan Fathr.
2) Memakai lafal تبارك, yang terdapat dalam 2 surat yaitu Q.S. Al Furqon dan Al Mulk.
3) Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (tanzih ‘an ssifatin naqshin) dengan menggunakan lafal tasbih terdapat dalam 7 surat yaitu : Q.S. Al Isra, al A’la, al Hadid, al Hasyr, as shaff, al jum’ah, dan at Taghabun.
2. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus-putus (Al Ahruful Muqaththa’ah), yakni terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni ا,ح,ر,س,ص,ط,ع,ق,ك,ل,م,ن,ه,ي . Penggunaan surat-surat tersebut dalam pembukaan surat-surat Al Qur’an disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari kelompok berikut :
a. Awalan surah yang terdiri dari satu huruf, ini terdapat pada tiga surah.
Surah Shad ص , Surah Qaaf ق ,Surah al-Qalam ن
b. Awalan surah yang terdiri dari dua huruf, ini terdapat pada sepuluh surah:
Surah al- Mukmin حمّ, Surah Fushshilat حم, Surah Asy Syuraحمّ , Surah Az Zukhruf حمّ , Surah Ad Dukhan حمّ , Surah Al Jatsyiah حمّ , Surah Al Ahqaf حمّ , Surah Thaha طه , Surah An Maml طس , Surah Yasin يس
Tujuh dari sepuluh di atas dinamakan hawwaamiim.[12]
c. Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, ini terdapat pada tiga belas surah:
1) Enam surah diawali Alif Lam Mim الم
Surah al- Baqarah, Surah al- Imran, Surah al- Ankabut, Surah Ar Rum, Surah al- Lukman, Surah as Sajadah
2) Lima Surah diawali dengan Alif Lam Ra الر
Surah Yunus, Surah Hud, Surah Yusuf, Surah Ibrahim, Surah al-Hijr
3) Dua surah yang diawali dengan Tha Sin Mim طسم
Surah As Syu’araa, Surah al- Qashash
d. Awalan surah yang terdiri dari empat huruf, ini terdapat pada dua tempat, yaitu: Surah al-A’raf المص , Surah Ar Ra’du المر
e. Awalan surah yang terdiri dari lima huruf, ini hanya terdapat pada Surah Maryam .كهيعص
3. Pembukaan dengan panggilan (al istiftah bin nida).
Nida ini ada tiga macam, terdapat dalam 9 surat, yaitu nida untuk Nabi (النبي أيها يا ) yang terdapat dalam Q.S. Al Ahzab, At Tahrim dan At Thalaq. (المزمل ياأيها) dalam Q.S. al Muzammil dan term (المدثر ياأيها); nida untuk kaum mukminin dengan term امنوا الدين ياأيها terdapat dalam Q.S. Al Maidah dan Al hujurat, dan nida untuk umat manusia ياأيهاالناس terdapat dalam Q.S. An Nisa dan Q.S. Al Hajj.
Menurut As Suyuthi pembukaan dengan panggilan ini terdapat dalam 10 surat, yakni ditambah dengan Q.S. Al Mumtahanah.
4. Pembukaan dengan kalimat khabariyah (al istiftah bi al jumal al khabariyah). Jumlah khabariyah terdapat dalam 23 surah, yaitu : Q.S. At Taubah, Q.S. An Nur, Q.S. Az Zumar, Q.S. Muhammad, Q.S. Al Fath, Q.S. Ar Rahman, Q.S. Al Haaqqah, Q.S. Nuh, Q.S. Al Qodr, Q.S. Al Qori’ah, dan Q.S. Al Kautsar.Q.S. Al Anfal, Q.S. An Nahl, Q.S. Al Qomar, Q.S. Al Mu’minun, Q.S. Al Anbiya, Q.S. Al Mujadalah, Q.S. Al Ma’arij, Q.S. Al Qiyamah, Q.S. Al Balad, Q.S. Abasa, Q.S. Al Bayyinah, Q.S. At Takatsur.
5. Pembukaan dengan sumpah (al istiftah bil qasam). Sumpah yang digunakan dalam pembukaan surat-surat Al Qur’an ada empat macam dan terdapat dalam 15 surat.
6. Pembukaan dengan syarat (al istiftah bis syarat), terdapat dalam 7 surat, yakni : Q.S. At Takwir, Q.S. Al Infithar, Q.S. Al Insiqaq, Q.S. Al Waqi’ah, Q.S. Al Munafiqun, Q.S. Al Zalzajah, dan Q.S. An Nashr.
7. Pembukaan dengan kata kerja perintah (al istiftah bil amr), terdapat dalam : Q.S. Al Alaq, Q.S. Jin, Q.S. Al Kafirun, Q.S. Al Falaq, dan Q.S. An Nas.
8. Pembukaan dengan pertanyaan (al istiftah bil istifham). Bentuk pertanyaan ini ada dua macam, yaitu :
a. Pertanyaan positif yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan dalam bentuk ini digunakan dalam 4 surat, yaitu : Q.S. Ad Dahr, Q.S. An Naba, Q.S. Al Ghasyiyah, dan Q.S. Al Maun.
b. Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat negatif, yang hanya terdapat dalam dua surat, yakni : Q.S. Al Insyirah dan Q.S. Al Fill.
9. Pembukaan dengan do’a (Al Istiftah bid du’a), terdapat dalam 3 surat, yaitu : Q.S. Al Muthaffifin , Q.S. Al Humazah, dan Q.S. Al Lahab.
10. Pembukaan dengan alasan (al istiftah bit ta’lil).
Pembukaan dengan alasan ini hanya terdapat dalam Q.S. Al Quraisy.
Setelah huruf hijaiyah yang terdapat dalam pembukaan-pembukaan surah ini dengan tanpa berulang, berjumlah 14 huruf atau separuh dari jumlah keseluruhan huruf hijaiyah. Karena itu, para mufassir berkata bahwa pembukaan-pembukaan tersebut untuk menunjukkan kepada bangsa Arab akan kelemahan mereka. Meskipun al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf hijaiyah yang mereka kenal, yang sebagiannya datang dalam bentuk satu huruf dan lainnya dalam bentuk yang tersusun dari beberapa huruf, namun mereka tidak mampu membuat kitab yang dapat menandinginya. Hal ini menunjukkan kelemahan mereka di hadapan al-Qur’an.[13]
C. Pandangan Ulama Tentang Fawatih As-Suwar
Ketika akan membicarakan fenomena potongan huruf-huruf hijaiyah yang terdapat dalam al-Qur’an, dapat dikatakan bahwa tidak ditemukan orang Arab yang mengenal ataupun menggunakan gaya bahasa seperti itu dalam permulaan ucapan mereka. Begitu juga, kita tidak menemukan satu makna pun bagi huruf-huruf tersebut selain penyebutannya dalam huruf-huruf hijaiyah. Bahkan tak ditemukan satu pun hadis yang diriwayatkan oleh Rasulullah Saw mengenai tafsir huruf-huruf tersebut yang dapat dijadikan pegangan.[14]
Hal inilah yang menjadi pemicu banyaknya pendapat para ulama dan perbedaan sudut pandang di antara mereka tentang penafsiran huruf-huruf tersebut.
Secara ringkas, pendapat para ulama dapat dikemukakan ke dalam 3 sudut pandang utama, yakni:
1. Penafsiran yang memandang huruf-huruf tersebut masuk ke dalam kategori ayat-ayat mutasyabihat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT.
2. Penafsiran yang memandang huruf-huruf itu sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu.
3. Penafsiran yang memandang huruf-huruf itu bukan merupakan singkatan, tetapi mengajukan sejumlah kemungkinan tentang penafsiran maknanya.[15]
Pandangan kelompok pertama yang diwakili oleh para ulama salaf, dalam menyikapi huruf-huruf hijaiyah yang terletak pada awal surah sebagai ayat-ayat mutasyabihat, berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut telah tersusun sejak azali sedemikian rupa, melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkan yang seperti al-Qur’an.[16] Karena kehati-hatiannya, mereka tidak berani memberi penafsiran terhadap huruf-huruf itu, dan berkeyakinan bahwa Allah Swt sendiri yang mengetahui tafsirnya. Hal ini menjadi suatu kewajaran yang berlaku bagi ulama salaf karena mereka dalam hal teologi pun menolak untuk terlibat dalam pembahasan tentang hal-hal yang menurut mereka tidak dapat dilampaui oleh akal manusia.[17]
Kelompok kedua, yang memandang huruf-huruf hijaiyah pada fawatih al-suwar itu sebagai singkatan untuk kata-kata atau kalimat tertentu, mengajukan penafsiran yang bervariasi tentang kepanjangan huruf-huruf tersebut.
Ibnu Abbas (w. 68 H.), misalnya, diriwayatkan dari padanya bahwa ia berpendapat tentang الم, Alif menunjuk kepada ana, lam menunjuk kepada Allah dan Mim menunjuk kepada A’lam (u) sehingga maknanya انا الله أعلم )Aku adalah Allah lebih mengetahui), adapun المص adalah dari انا الله افصّل (Aku adalah Allah akan menjelaskan segala sesuatu), dan tentang الر bermakna انا الله أرى (Aku adalah Allah, Aku melihat).[18]
Kelompok ketiga, berpendapat bahwa “huruf-huruf potong” yang terdapat pada permulaan sejumlah surah al-Qur’an itu bukanlah singkatan-singkatan untuk kata atau kalimat tertentu. Tetapi sehubungan dengan makna huruf-huruf tersebut, kelompok ini juga mengajukan kemungkinan-kemungkinan penafsiran yang bervariasi.
Huruf-huruf itu merupakan huruf-huruf misterius yang secara tidak jelas merujuk kepada nama-nama nabi, nama-nama bagi al-Qur’an, dan mana-nama bagi surah yang memuatnya, seperti الم adalah nama bagi surah al-Baqarah, كهيعص adalah nama bagi surah Maryam, ن adalah nama surah al-Qalam, dan seterusnya. Pendapat ini dipilih oleh kebanyakan ulama kalam, dan sekelompok ulama bahasa, dan dibenarkan oleh Syekh Thusi serta dikuatkan oleh al-Tabari (224-310 H.)[19]
Ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf tersebut merupakan tanda-tanda mistik dengan makna simbolik yang didasarkan pada nilai-nilai numeric alphabet Semitik-Utara, misalnya: الم (1+30+40=71); المص )1+30+40+60=131); الر (1+30+200=231); المر (1+30+40+200=271), dan lain-lain, dimana angka-angka ini menunjukkan usia umat Nabi Muhammad Saw.[20]
Pendapat lain mengemukakan bahwa huruf-huruf itu merupakan tanbih, media untuk membangkitkan perhatian Rasulullah Saw kepada apa yang disampaikan kepadanya di kala beliau dalam keadaaan sibuk misalnya. Demikian yang diungkapkan oleh Khuwaibi.[21]
M. Quraish Shihab, dalam kitab tafsirnya “Al-Misbah” menyatakan bahwa fawatih al-suwar ini merupakan isyarat bahwa kitab suci al-Qur’an ini menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan orang-orang Arab, namun demikian mereka tidak mampu membuat sesuatu yang serupa.[22]
Dari beberapa pandangan atau penafsiran para ulama tersebut maka penulis lebih condong kepada pendapat bahwa fawatih al-suwar ini dimaksudkan untuk menjadi salah satu bukti akan keotentikan, kebenaran dan kemukjizatan al-Qur’an sekaligus untuk menunjukkan kelemahan kaum musyrikin di hadapan al-Qur’an, oleh karena al-Qur’an yang diturunkan dengan memakai huruf-huruf dan bahasa yang mereka kenal bahkan mereka pergunakan sehari-hari akan tetapi mereka tidak mampu bahkan tidak akan pernah mampu sampai kapanpun untuk membuat sesuatu seperti al-Qur’an.
[1] Departemen Agama RI, Al Qur’an Al Karim dan Terjemahannya Departemen Agama RI, (Semarang : CV Pustaka Agung Harapan, 2006), h.355
[2] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan Masyarakat. (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1994), h. 27.
[3] Departemen Agama RI, op.cit., h.397
[4] Ibid., h.76
[5] Ibid., h.78
[6] A.W Munawwir, Kamus Al-Qur’an Al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap, Edisi Kedua, ditelaah oleh KH. Ali Ma’sum dari KH. Zainal Abidin Munawwir, Cet.XIV, (Surabaya : Pustaka Progresif, 1997), h.1030
[7] Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, Cet. 4, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), h. 303
[8] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz III, (Jeddah : Lil al-Taba’ah wa Nasyr wa al-Tauzi,tt), h.7
[9] Issa J. Boullata, Al-Qur’an yang Menakjubkan ,(Tangerang: Lentera Hati, 2008) h. 290-291.
[10]Abu Anwar, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar (Cet III., Jakarta: Amzah, 2009), h. 89
[11] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001), h. 216.
[12]T.M. Hasbi Al-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Alqur’an: Media-Media Pokok dalam Menafsirkan Alqur’an (Cet. II; Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1998), h. 124
[13] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an (Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997), h. 188
[14] Muhammad Baqir Hakim, Ulum al-Qur’an, diterjemahkan oleh Nashirul Haq, et. al. dengan judul Ulumul Qur’an (Cet. III; Jakarta: Al-Huda, 2006), h. 652
[18]T.M. Hasbi Al-Shiddieqy, op.cit., h. 131
[22] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 12 (Cet.VII, Jakarta: Lentera hati, 2007), h. 282
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank You For Comment